Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • fika.rahimah10 11:53 pm on 3 December 2013 Permalink | Reply  

    Rancangan Rumah Tanaman 1000 Tomat 

    Data lengkap perancangan RUMAH TANAMAN 1000 TOMAT dapat diunduh di sini

     

     
  • fika.rahimah10 5:32 am on 14 September 2010 Permalink | Reply  

    Cerita Inspirasi II 

    FIKA RAHIMAH F14100020

    Nama saya Gina. Saya anak tunggal dan saya tinggal bersama Ibu dan Ayah saya di Bandung. Saya terbiasa hidup dengan harta berkecukupan, orang tua yang memanjakan dalam segala hal dan keluarga dengan penuh perhatian. Oleh Tuhan Yang Maha Esa, saya diberkahi kemampuan akademik yang bias dibilang di atas rata-rata. Mungkin kebanyakan orang melihat sekilas bahwa saya hidup dengan kehidupan yang bisa dibilang sempurna, namun siapa yang tahu ada hal yang tersembunyi dibalik semua itu.

    Saya diberkahi tubuh yang sangat subur, bisa dibilang cukup besar untuk anak seumuran saya. Saya pada awalnya tidak bermasalah dengan hal itu, mengetahui kesehatan ialah hal yang paling penting dibandingkan penampilan. Namun semenjak beranjak SMA, saya mulai merasa minder dengan keadaan yang seperti itu. Saya terkadang menjadi bahan bercandaan teman-teman sekumpulan saya, yang sebenarnya ialah hal yang biasa untuk persahabatan kami. Namun dengan keadaan seperti itu, lama kelamaan itu menjadi ujian mental sendiri untuk saya karena saya menjadi minder, saya mulai merasa bahwa tak ada lelaki yang pada akhirnya tertarik pada saya karena penampilan saya yang seperti itu.

    Itu adalah bulan Ramadhan tahun 2009, awal mula segalanya. Pada minggu pertama bulan Ramadhan, berat badan saya berkurang drastis dikarenakan berpuasa. Memang tidak begitu berpengaruh pada penampilan saya, namun saya merasa bahagia saat itu. Banyak wanita seumuran saya yang sangat ingin memperindah bentuk tubuhnya dengan mengurangi berat badan, bahkan bagi mereka yang sebenarnya telah memiliki bentuk tubuh proporsional.

    Lalu saya pun memutuskan untuk melanjutkan pengurangan berat badan saya setelah Idul Fitri. Saya mulai mengatur pola makan saya dan berat badan pun terus berkurang dan berkurang. Pada awalnya teman-teman saya pun heran dengan perubahan penampilan saya, dan saya pun makin merasa bangga dengan perjuangan saya memperindah bentuk tubuh.

    Bercandaan dan cemoohan ringan dari teman-teman saya memang masih berlanjut, mengingat itu adalah hanya sebagai hiburan saat kami berkumpul bersama. Saya pun mulai tidak merasa bermasalah dengan itu karena toh badan saya tidak sebesar itu lagi sekarang.

    Lama kelamaan, mengurangi berat badan pun menjadi obsesi saya. Entah setan apa yang merasuki saya, hal itu mengubah cara berfikir saya. Saya menjadi terobsesi dengan makanan sehat, dan saya bahkan menjadi rela untuk makan hanya sedikit demi memenuhi keinginan saya untuk tetap menjadi langsing. Saya berolahraga dua kali seminggu, dan saya tidak mengonsumsi makanan dengan porsi normal untuk beberapa bulan.

    Obsesi saya untuk kurus menjadi suatu boomerang yang pada akhirnya mencelakakan diri saya sendiri. Keinginan saya tersebut berubah menjadi ketakutan yang luar biasa akan kenaikan berat badan. Saya akan melakukan hal apapun demi memenuhi hawa nafsu saya yang dikuasai ketakutan akan kenaikan berat badan. Ketakutan akan memiliki bentuk tubuh seperti dulu lagi mengingatkan saya pada diri saya yang menjadi bahan cemoohan, bahan ejekan dan bahan tertawaan.

    Ketakutan tersebut menjuruskan saya pada hal paling hina yang pernah saya temui seumur hidup saya, Bulimia Nervosa. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk membuang makanan yang saya makan sekiranya saya makan melebihi porsi makan saya saat diet. Saat diet, saya hanya mengonsumsi nasi dan lauk pauk sekali sehari, yang sebetulnya adalah porsi yang sangat minim untuk asupan gizi sehari-hari orang normal.

    Saya terjerembab dalam hal yang kelam itu selama dua minggu, dimana saya terus dihantui rasa takut akan kegemukan. Emosi saya tidak stabil saat itu, bahkan tidak jarang saya bertengkar dengan Ibu saya karena saya yang ogah-ogahan untuk makan. Bahkan hanya karena sesuap makanan yang saya makan diluar jam makan, saya akan membuangnya kembali.

    Setelah dua minggu saya hidup dalam cara berfikir setan itu, saya merasa hidup saya hampa. Saya merasa kehilangan jati diri dan saya merasa sangat jauh dari Tuhan. Saya mulai berpikir, apa sebenarnya yang saya cari? Apa sebenarnya ujung dan tujuan dari memenuhi hawa nafsu seperti ini?

    Suatu hari, saya menerima kabar bahwa saya diterima di salahsatu Perguruan Tinggi Negeri yang merupakan universitas impian saya. Saya senang tak terperi. Syukur dan sujud saya lakukan tak terhitung.

    Saya lalu mengingat perbuatan saya selama dua minggu ke belakang, pantaskah saya mendapatkan semua ini?

    Saya merasa menjadi makhluk Tuhan paling hina. Saya diberkahi keluarga yang bahagia, harta yang tak kurang dan teman-teman yang setia. Perlukan saya memenuhi hawa nafsu yang tak berujung? Pantaskah saya mendapatkan keberkahan berlimpah seperti ini?

    Saya merasa menjadi orang yang paling tidak bersyukur, tak tahu diri. Sungguh hina. Hingga akhirnya saya berhenti dari kebiasaan saya itu dengan penyesalan tak kurang-kurang.

    Saya bukan saja mendustai diri sendiri, namun saya secara tak diketahui telah menjadi produk gagal yang telah dirancang oleh kedua orang tua saya selama ini. Saya telah mendzalimi diri sendiri dan saya melakukan hal yang dimurkai Tuhan.

    Makanan adalah rezeki dari Yang Maha Kuasa dan seharusnya dipergunakan oleh tubuh kita untuk menghasilkan energi untuk beribadah kepada-Nya. Bukanlah untuk dibuang kembali.

    Itu berarti saya telah menyisipkan lembaran-lembaran hitam pada kisah hidup saya. Lembaran hitam yang bila diputihkanpun tidak bisa karena tercipta dari abu yang abadi hasil bakar penyesalan saya. Lembaran yang akan selalu mengingatkan saya bahwa mendzalimi diri sendiri itu tak ada habisnya bila kita terus mengikuti hawa nafsu.

    Kita semua diciptakan di dunia ini bukan untuk mengikuti hawa nafsu, namun untuk selalu belajar untuk mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Tidak untuk mengeluh, namun untuk selalu menyadari bahwa nikmat Tuhan jauh lebih berlimpah daripada percikan kekurangan pada diri kita sendiri, dan kekurangan yang ada pada dikir kita seharusnya menjadi cermin supaya kita terus berfikir dan berusaha untuk mencari sisi lain dari diri kita yang dapat kita gunakan untuk selalu mengingat Tuhan beserta limpahan nikmatnya.

     
  • fika.rahimah10 5:32 am on 14 September 2010 Permalink | Reply  

    Cerita Inspirasi I 

    Saya punya sepupu, Kyla namanya. Kyla merupakan kakak sepupu saya yang jarak umurnya cukup jauh dengan saya, 12 tahun. Kyla merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakanya Abi, dan Lenny masing-masing berjarak tiga tahun dan dua tahun lebih tua darinya.

    Kedua orangtua mereka, Oom dan Tante saya, merupakan orang yang tidak begitu kental agamanya. Tak sedikit budaya barat mereka gunakan dalam mendidik kedua anaknya. Mereka tidak taat dalam mendirikan shalat, apalagi dalam hal yang tidak wajib lainnya.

    Oom Fachri, Oom saya itu, sangat bangga dengan kebudayaan barat yang sebagian beliau ikuti. Ia sangatlah update dengan perkembangan dunia luar sana. Beliau bekerja sebagai penerjemah, oleh karena itulah bahasa Inggrisnya sangat bagus dan beliau punya kenalan orang-orang luar negeri. Salah satu sahabat karibnya bernama Steve, bule dari Kanada. Mereka berteman sudah lama sekali, dan Steve lah yang membawa Oom Fachri kedalam dunia yang dipenuhi liberalisme itu. Steve pula yang membantu Oom Fachri mencari pekerjaan saat beliau habis mengalami PHK dengan perusahaan sebelumnya, sehingga Oom Fahcri menjadi penerjemah bagi salah satu lembaga yang berkoneksi dengan Steve.

    Tak jarang Oom Fachri membanding-bandingkan kebudayaan Islam dengan kebudayaan barat. Namun tidak semua kebudayaan barat beliau ikuti pula. Seperti misalnya dalam pergaulan Kyla, dia diperbolehkan oleh Oom Fachri untuk menginap beberapa hari dirumah temannya, pulang larut malam dan sebagainya. Itu beliau ambil dari didikan bule yang menyatakan bahwa setiap anak yang telah berusia diatas 17 tahun berhak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Bahkan sebelum Kyla berumur 17 tahun pun pergaulannya sudah mulai menjurus ke pergaulan yang sebegitu bebasnya.

    Oom Fachri sering mengolok-olok sanak keluarganya yang banting stir, misalnya dari seorang pengusaha yang kaya raya namun tiba-tiba jatuh bangkrut dan membuka usaha rumah makan padang yang seadanya. Beliau merasa bahwa hidupnya sebegitu berlimpah karena beliau seringkali menerjemahkan buku-buku tebal yang biaya terjemah per lembarnya saja dihitung dalam dollar.

    Seringkali hatiku miris bila bertemu dengannya. Tak sedikit olokan dan cemoohan keluar dari mulutnya tentang orang lain. Alangkah takutnya diriku bila dekat dengannya, takut bahwa dirikupun akan kena imbas dari kelakuan beliau.

    Kyla, sekarang berumur 29 tahun dan belum juga menikah. Oom Fachri dan tanteku itu, tak juga memikirkan nasib anak gadis bungsunya itu. Mereka berdua kerap berfikir bahwa dengan pergaulan yang luas dan bebas, akan semakin mudah pula pencarian jodoh. Namun kenyataan tidak berkata demikian.

    Sudah berkali-kali Kyla mencoba menjalin cinta dengan beberapa pria, namun hasilnya nihil. Ada saja yang meninggalkannya, tidak cocok, tidak direstui ibu si pria, bahkan ada yang kabur. Entah apa yang salah, karena bila Kyula bercerita tentang pengalamannya, seolah-olah para pria itulah yang selalu menjadi tersangka yang bersalah. Aku awalnya percaya, namun aku lama kelamaan berfikir, dari sekian banyak hubungan, apakah mungkin selalu pasangan itu yang salah dan bukan Kyla?

    Aku pun tidak begitu mengerti urusan perjodohan dan sejenisnya, namun yang kuambil pelajaran ialah bahwa amal perbuatan orangtua mempengaruhi kehidupan anaknya. Mungkinkah apa yang dialami Kyla merupakan dampak dari perbuatan dirinya sendiri serta amal perbuatan orangtuanya? Wallahu’alam. Yang kutahu, kita semua diperintahkan untuk selalu taat kepada Allah SWT dan tidak boleh mudah merasa puas serta sombong atas apa yang telah kita punya. Karena hal apapun itu yang kita perbuat, entah hal baik maupun buruk, pasti akan ada akibatnya pada diri kita dan lingkungan kita. Alangkah baiknya kita selalu berusaha untuk introspeksi diri dan selalu mengingat bahwa apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai nantinya.

    FIKA RAHIMAH F14100020

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel